pendekatan manajemen kelas 2


.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Guru merupakan tenaga profesional sehingga guru tidak disamakan dengan seorang tukang. Seorang tukang cukup mengikuti petunjuk yang terdapat dalam buku petunjuk. Sementara seorang guru peranannya sebagai pengelola aktivitas yang harus bekerja berdasar pada kerangka acuan pendakatan manajemen kelas.
Mengelola kelas dalam proses pemecahan masalah bukan terletak pada banyaknya macam kepemimpinan dan kontrol, tetapi terletak pada ketrampilan memberikan fasilitas yang berbeda-beda untuk setiap peserta didik. Pemecahan masalah merupakan proses penyelesaian yang beragam, ini tergantung pada sumber permasalahan.
Guru harus memiliki, memahami dan terampil dalam menggunakan macam-macam pendekatan dalam manajemen kelas, meskipun tidak semua pendekatan yang dipahami dan dimilikinya dipergunakan bersamaan atau sekaligus. Dalam hal ini , guru dituntut untuk terampil memilih atau bahkan memadukan pendekatan yang menyakinkan untuk menangani kasus manajemen kelas yang tepat dengan masalah yang dihadapinya.
Untuk mengatasi hal tersebut diatas, maka dalam makalah ini akan dibahas mengenai beberapa pendekatan dalam manajemen kelas yaitu : Pendekatan Pengubahan Perilaku, Pendekatan Sosio – Emosional, Pendekatan Proses Kelompok, Pendekatan Analitik Pluralistik, dan Pendekatan Eklektik.
B. Rumusan Masalah
1.      Apakah yang dimaksud dengan pendekatan pengubahan perilaku?
2.      Apakah yang dimaksud dengan pendekatan iklim sosio-emosional?
3.      Apakah yang dimaksud dengan pendekatan proses kelompok?
4.      Apakah yang dimaksud dengan pendekatan analitik pluralistik?
5.      Apakah yang dimaksud dengan pendekatan eklektik?

C. Tujuan Penulisan
1.      Mengetahui dan memahami pendekatan pengubahan perilaku, pendekatan iklim sosio-emosional, pendekatan proses kelompok, pendekatan analitik pluralistik, dan pendekatan eklektik dalam manajemen kelas.
2.      Menyimpulkan kelebihan dan kelemahan tiap-tiap pendekatan dalam manajemen kelas.
3.      Menyimpulkan persamaaan dan perbedaan tiap-tiap pendekatan dalam manajemen kelas.
4.      Menerapkan berbagai macam pendekatan dalam manajemen kelas.



















BAB II
PEMBAHASAN

A. Pendekatan Pengubahan Perilaku
Pendekatan pengubahan tingkah laku didasarkan pada teori yang mantap, yaitu prinsip prinsip psikologi behavioral. Pada dasarnya bahwa semua tingkah laku itu dipelajari, baik tingkah laku yang disukai maupun tingkah laku yang tidak disukai. Seorang siswa melakukan tindakan menyimpang tersebut karena satu atau dua alasan, yaitu :
1.      Siswa telah mempelajari tingkah laku yang menyimpang itu, atau
2.      Siswa itu belum mempelajari tingkah laku yang sesuai.

Pendekatan pengubahan tingkah laku dibangun atas dua anggapan dasar:
1.      empat proses yang perlu diperhitungkan dalam belajar bagi semua orang pada segala tingkatan umur dan dalam segala keadaan
2.      proses belajar itu sebagian atau seluruhnya dipengaruhi (dikontrol) oleh kejadian-kejadian yang berlangsung di lingkungan.
Dengan demikian, tugas pokok guru adalah menguasai dan menerapkan keempat proses yang telah terbukti (bagi kaum behavioris) merupakan pengontrol tingkah laku manusia, yaitu: penguatan positif, penghukuman, penghilangan dan penguatan negatif.
Penguatan positif
Penguatan positif berupa memberikan stimulus positif, berupa ganjaran atau pujian terhadap perilaku atau hasil yang memang diharapkan, misalnya berupa ungkapan seperti “Nah seperti ini kalau mengerjakan tugas, tulisannya rapi mudah dibaca”.
Jenis-jenis penguatan positif itu ada yang:
1.      Penguatan primer (dasar) yaitu penguatan-penguatan yang tidak dipelajari dan selalu diperlukan untuk berlangsungnya hidup, seperti, makanan, air, udara yang segar dan sebagainya. Suasana seperti ini dapat membentuk perilaku siswa yang baik dan betah di dalam kelas
2.      Penguatan sekunder (bersyarat) yang menjadi penguat sebagai hasil proses belajar atau dipelajari, seperti diperhatikan, pujian (penguat sosial), nilai angka, rangking (penguatan simbolik), kegiatan atau permainan yang disenangi siswa (penguatan bentuk kegiatan).
Penghukuman
Penghukuman merupakan pemberian stimulus yang tidak menyenangkan untuk menghilangkan dengan segera perilaku peserta didik yang tidak dikehendaki. Tindakan hukuman dalam pergelolaan kelas masih bersifat kontroversial (dipertentangkan). Sebagian menganggap bahwa hukuman merupakan alat yang efektif untuk dengan segera menghentikan tingkah laku yang tidak dikehendaki, sekaligus merupakan contoh “yang tidak dikehendaki” bagi siswa lain. Sebagian lain melihat bahwa akibat sampingan dari hubungan pribadi antara guru (yang menghukum) dan siswa (terhukum) menjadi terganggu, atau siswa yang dihukum menjadi “Pahlawan” di mata teman-temannya.
Penguatan Negative
Penguatan negative adalah berupa peniadaan tingkah laku yang tidak disukai (biasanya berupa hukuman) yang selalu diberikan kepada siswa, karena siswa yang bersangkutan telah meninggalkan tingkah laku yang menyimpang. Dengan demikian diharapkan tingkah laku siswa yang lebih baik itu akan ditingkatkan frekuensinya (Nurhadi, 1983: 177-180)
Penghilangan
Penghilangan adalah upaya mengubah perilaku peserta didik dengan cara menghentikan pemberian respon terhadap suatu perilaku peserta didik yang semula dilakukan dengan respon tersebut. Penghilangan ini menghasilkan penurunan frekuensi tingkah laku yang semula mendapat penguatan. Penundaan merupaan tindakan tidak jadi memberikan ganjaran atau pengecualian pemberian ganjaran untuk siswa tertentu. Penundaan seperti ini menurunkan frekuensi penguatan dan menurunkan frekuensi tingkah laku yang dimaksud itu.



B. Pendekatan Iklim Sosio-Emosional
Pendekatan iklim sosio-emosional dalam manajemen kelas berakar pada psikologi penyuluhan klinis, karena itu memberikan arti yang sangat penting pada hubungan antar pribadi. Pendekatan ini dibangun atas dasar asumsi bahwa manajemen kelas yang efektif sangat bergantung kepada hubungan yang positif antara guru dan peserta didik. Guru adalah penentu utama atas hubungan antara manajemen kelas yang efektif. Oleh karena itu tugas pokok guru dalam manajemen kelas adalah membangun hubungan antarpribadi yang positif sehingga tercipta iklim sosio-emosional yang positif pula.
Hal-hal yang meliputi kondisi sosio-emosional.
a. Tipe kepemimpinan
Tipe kepemimpinan guru yang lebih menekankan kepada sikap demokratis lebih memungkinkan terbinanya sikap persahabatan guru dan siswa denga dasar saling memahami dan saling mempercayai. Sikap inidapat membantu tercipyanya iklim yang menguntungkan bagi terciptanya kondisi belajar yang optimal. Siswa akan belajar secara produktif baik pada saat ada guru maupun tidak ada guru. Dalam kondisi semacam ini biasanya problema manajemen kelas bisa diperkecil sesedikit mungkin.
b. Sikap guru
Sikap guru dalam menghadapi siswa yang melanggar peraturan sekolah hendaknya tetap sabar, dan tetap bersahabat dengan suatu keyakinan bahwa tingkah laku siswa akan dapat diperbaiki. Kalaupun guru terpaksa membenci, bencilah tingkah laku siswa dan bukan membenci siswanya iu sendiri. Terimalah siswa dengan hangat, siehingga ia insyaf dengan akan sesalahannya. Berlakulah adil dalam bertindak. Ciptakan satu kondisi yang menyebabkan siswasadr akan kesalahannya sehingga ada dorongan untuk memperbaiki kesalahannya.
c. Suara guru
Suara guru, walaupun bukan faktoryang besar, turut mempenyai pengaruh besar dalam belajar. Suara yang melengking tnggi atau senautiasa tinggi atau demikian rendah sehingga tidak terdengar oleh siswa secara jelas dari jarak yang agak jauh akan mengakibatkan suasana gaduh. Keadaan seperti itu, juga akan membosankan sehingga pelajaran cenderung tidak diperhatikan. Suara yang relative rendah tetapi cukup jelas dengan volume suara yang penuh dan kedengarannya rileks akan mendorong siswa untuk memperhatikan pelajaran. Mereka yang lebih berani mengajukan pertanyaan, melakukan percobaan sendiri, dan sebagainya. Tekanan suara hendaknya bervariasi sehingga tidak membosankan siswa yang mendengarnya. Hal yang penting dari itu semuanya adalah proses pembelajarannya akan semakin terarah.
d. Pembinaan hubungan baik
Pembinaan hubungan baik (report) antara guru dan siswa dalam masalah manajemen kelas adalah hal yang sangat penting. Dengan terciptanya hubungan baik guru-siswa senantiasa gembira, penuh gairah dan semangat, bersikap optimistik, realistik dalam kegiatan belajar mengajar yang sedang dilakukan serta terbuka terhadap hal-hal yangakan ada pada dirinya.

Menurut Nurhadi (1983: 183) kunci utama untuk mengembangkan iklim sosial emosional yang efektif ada tiga macam, yaitu:
1.      Guru hendaknya menampilkan dirinya sebagaimana adanya di hadapan siswa.
2.      Guru mempunyai sikap menerima terhadap siswa, yaitu sikap mempercayai dan menghormati
3.      Guru memahami siswa dengan penuh simpati, yaitu dengan penuh kepekaan terhadap perasaan-perasaan siswa.

C. Pendekatan Proses Kelompok
Premis utama yang mendasari pendekatan proses kelompok didasarkan pada asumsi-asumsi berikut:
1.      Kehidupan sekolah berlangsung dalam dukungan kelompok, yakni kelompok kelas.
2.      Tugas pokok guru adalah menciptakan dan membina kelompok kelas yang efektif dan produktif.
3.      Kelompok kelas adalah suatu sistem sosial yang mengandung ciri-ciri yang terdapat pada semua sistem sosial yang mengandung ciri-ciri yang terdapat dalam semua sistem sosial.
4.      Pengelolaan kelas oleh guru adalah menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang menunjang terciptanya suasana belajar yang menguntungkan.

Schmuck dan Schmuck dalam weber (1986) mengemukakan enam ciri pendekatan proses kelompok, yaitu harapan, kepemimpinan, daya tarik, norma, komunikasi, dan keterpaduan dengan penjelasan seperti berikut ini :
1.      Harapan adalah presepsi yang dimiliki oleh guru dan siswa mengenai hubungan mereka satu sama lain. Persepsi tersebut adalah perkiraan individual tentang cara berperilaku diri sendiri dan orang lain.
2.      Kepemimpinan paling tepat diartikan sebagai perilaku yang membantu kelompok bergerak menuju pencapaian tujuannya serta memelihara dan meningkatkan kepaduan. Jadi, perilaku kepemimpinan terdiri atas tindakan-tindakan anggota-anggota kelompok termasuk didalamnya tindakan-tindakan yang membantu penetapan norma –norma kelompok yang menggerakkann kelompok ke arah tujuan, yang menciptakan kepandun kelompok. Fungsi kepemimpinan dilaksanakan bersama-sama oleh guru dan para peserta didik.
3.      Daya tarik menunjuk pada pola-pola persahabatan dalam kelompok kelas. Daya tarik dapat digambarkan sebagai tingkat persahabatan yang terdapat diantara para anggota kelompok kelas. Tingkat daya tarik bergantung pada sejauh mana hubungan antarpribadi yang positif telah berkembang.
4.      Norma ialah pengharapan bersama mengenai cara berpikir. cara berperasaan, dan cara berperilaku para angota kelompok. Norma sangat mempengaruhi hubungan antar pribadi karena norma tersebut memberikan pedoman yang membantu para anggota memahami apa yang diharapkan dari mereka dan apa yang dapat diharapkan mereka harapkan dari orang lain.
5.      Komunikasi, baik verbal maupun non-verbal, adalah dialog antara anggota-anggota kelompok. Komunikasi mencakupi kemampuan khas manusia untuk saling memahami dan menyatakan buah pikiran serta perasaan masing-masing.
6.      Keterpaduan menyangkut perasaan kolektif yang dimiliki oleh para anggota kelas mengenai kelompok kelasnya. Keterpaduan menekankan hubungan individu dengan kelompok sebagai suatu keseluruhan.

D. Pendekatan Analitik Pluralistik
Pendekatan analitik pluralistik memberi kesempatan kepada guru memilih strategi pendekatan manajemen kelas atau gabungan beberapa strategi dari berbagai pendekatan manajemen yang dianggap mempunyai potensi terbesar berhasil menanggulangi masalah manajemen kelas dalam situasi yang telah dianalisis. Guru yang bijaksana menghargai pendekatan dan strategi manajemen kelas yang mempunyai konsep yang baik. Dengan demikian, pendekatan analitik pluralistik memperluas jangkauan pendekatan. Pendekatan analitik pluralistik berupa pemilihan diantara berbagai strategi manajemen kelas suatu atau beberapa strategi yang mempunyai kemungkinan menciptakan dan menampung kondisi-kondisi yang memberikan kemudahan kepada pembelajaran yang efektif dan efisien.
Ada 4 tahap pendekatan analitik pluralistik:
1.      Menentukan kondisi kelas yang diinginkan
Dalam hal ini, guru perlu mengetahui dengan jelas dan mendalam tentang kondisi – kondisi yang menurut penilaiannya akan memungkinkan mengajar secara efektif. Keuntungan utama terciptanya kondisi kelas yang diyakini guru sesuai adalah:
a.       Guru tidak memandang kelas semata – mata hanya sebagai reaksi atas masalah yang timbul
b.      Guru akan memiliki seperangkat tujuan yang mengarahkan dan yang menjadi tolak ukur penilaian atas hasil upayanya

2.      Menganalisis kondisi kelas yang nyata
Dengan mengadakan analisis ini, akan memungkinkan guru mengetahui:
a.       Kesenjangan antara kondisi sekarang dan yang diharapkan.
b.      Kesenjangan yang timbul jika guru gagal mengambil tindakan pencegahan.
c.       Kondisi sekarang yang perlu dipelihara dan dipertahankan karena dianggap sudah baik.
3.      Memilih dan menggunakan strategi pengelolaan
Guru yang efektif adalah guru yang menguasai berbagai strategi manajerial yang tergantung dalam berbagai pendekatan manajemen kelas dan mampu memilih dan menggunakan strategi yang paling sesuai dalam situasi tertentu yang dianalisis sebelumnya.
4.      Menilai keefektifan pengelolaan
Proses penilaian ini memusatkan perhatian kepada 2 perangkat perilaku, yaitu:
a.       Perilaku guru, yaitu sejauh mana guru telah menggunakan perilaku manajemen yang direncanakan akan dilakukan.
b.      Perilaku peserta didik, yaitu sejauh mana peserta didik berperilaku yang sesuai, yakni apakah mereka telah melakukan apa – apa yang diharapkan untuk dilakukan.
Contoh Pendekatan Analitik Pluralistik:
guru bisa menangani masalah yang terjadi di dalam kelas dengan mudah, seperti anak yang nakal, berkelahi, pemalu dll, karena dalam pendekatan analitik pluralistik guru bisa memilih strategi manajemen kelas yang dianggapnya paling berpotensi untuk pembelajaran.

E. Pendekatan Eklektik
Seorang guru harus mengetahui kekuatan dan kelemahan masing-masing pendekatan ketika akan menerapkan satu pendekatan. Dalam kenyataan guru jarang sekali menerapkan satu pendekatan secarah utuh, melainkan mengkombinasikan masing-masing pendekatan dengan mengambil hal-hal yang positif dari satu pendekatan secara mengeliminasi kelemahan masing-masing pendekatan. Pendekatan Eklektik yaitu pendekatan dengan cara menggabungkan semua aspek terbaik dari berbagi pendekatan manajemen kelas untuk menciptakan suatu kebulatan atau keseluruhan yang bermakna, yang secara filosifis, teoritis dan/atau psikologis dinilai benar, yang bagi guru merupakan sumber pemilihan perilaku pengelolaan tertentu yang sesuai dengan situasi (Wilford A.Weber, 1986).

Dua syarat yang perlu dikuasai oleh guru dalam menerapkan pendekatan eklektik yaitu:
1) Menguasai pendekatan-pendekatan manajemen kelas yang potensial, seperti pendekatan pengubahan perilaku, penciptaan iklim sosio-emosional, proses kelompok,
2) Dapat memilih pendekatan yang tepat dan melaksanakan prosedur yang sesuai dengan baik dalam masalah manajemen kelas (M. Entang dan T. Raka Joni, 1983:43).

Kemampuan guru memilih strategi manajemen kelas yang tepat sangat tergantung pada kemampuannya menganalisis masalah manajemen kelas yang dihadapinya. Pendekatan perubahan tingkah laku dipilih, misalnya bila tujuan tindakan manajemen kelas yang akan dilakukan adalah menguatkan tingkah laku peserta didik yang baik dan/atau menghilangkan perilaku peserta didik yang kurang baik.
Pendekatan iklim sosio-emosional dipergunakan apabila sasaran tindakan manajemen kelas adalah peningkatan hubungan antar pribadi guru peserta didik. Sementara itu pendekatan proses kelompok dianut bila seorang guru igin kelompoknya melakukan kegiatan secara produktif.




BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pendekatan yang ada di manajemen kelas antara lain :
a.       Pendekatan Pengubahan Perilaku
Pendekatan pengubahan tingkah laku didasarkan pada teori yang mantap, yaitu prinsip prinsip psikologi behavioral
b.      Pendekatan Iklim Sosio-emosional
Pendekatan iklim sosio-emosional dalam manajemen kelas berakar pada psikologi penyuluhan klinis, karena itu memberikan arti yang sangat penting pada hubungan antar pribadi.
c.       Pendekatan proses kelompok
Pendekatan proses kelompok bercirikan adanya harapan, kepemimpinan, daya tarik, norma, komunikasi, dan keterpaduan.
d.      Pendekatan analitik pluralistik
Pendekatan analitik pluralistik memberi kesempatan kepada guru memilih strategi manajemen kelas atau gabungan beberapa strategi dari berbagai pendekatan manajemen yang dianggap mempunyai potensi terbesar berhasil menanggulangi masalah manajemen kelas dalam situasi yang telah dianalisis.
e.       Pendekatan eklektik
Pendekatan Eklektik yaitu pendekatan dengan cara menggabungkan semua aspek terbaik dari berbagi pendekatan manajemen kelas untuk menciptakan suatu kebulatan atau keseluruhan yang bermakna, yang secara filosifis, teoritis dan/atau psikologis dinilai benar, yang bagi guru merupakan sumber pemilihan perilaku pengelolaan tertentu yang sesuai dengan situasi



B. Saran
            Dalam pelaksanaan manajemen kelas tentunya banyak cara atau pendekatan yang dilakukan. Untuk itu, Guru harus bisa menguasai semua pendekatan walaupun tidak semuanya digunakan secara bersama-sama tetapi ketika menghadapi suatu masalah maka dapat digunakan pendekatan yang sesuai dengan masalahnya. Seorang guru harus pandai-pandai dalam memilih dan melaksanakan pendekatan yang ada agar sesuai dengan situasi dan kondisi kelas yang tengah dihadapinya.






















DAFTAR PUSTAKA


·         Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982. Buku II: Modul Pengelolaan Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Proyek Pengembangan Institusi Pendidikan Tinggi.
·         Ekosiswoyo, Rasdi dan maman Rachman. 2002. Manajemen Kelas. Semarang; IKIP Semarang Press.



Your Reply